are we human or are we dancer ?

do you really live your life according to what you decide ?
are you just puppeteered ? part of dancers generation ?
ask adimrf

islamic-quotes:

Watch

when you are about to do sins

islamic-quotes:

Watch

when you are about to do sins

Core Lessons in a Letter

suratku untukmu wahai anak-anakku…….

Bismillahirrahmanirrahim

Dengan nama Allah yang Maha Pelindung ummi menulis surat ini untuk kalian. Mungkin kelak saat kalian mengerti tentang apa yang ummi tulis saat ini, bisa jadi ummi sudah tidak lagi berada disamping kalian. Kutinggalkan ini sebagai sebuah perbekalan. Perbekalan bagi kalian mengarungi kehidupan.

Sayangku….. percayalah jika kalian selalu bersama Allah kalian akan baik-baik saja. Kenalilah Allah maka kalian akan mengerti apa yang Allah inginkan dari kehidupan ini. Kenalilah Allah maka kalian akan hidup bahagia. Kenalilah Allah maka kalian akan merasa tenang dalam menghadapi apapun dalam kehidupan.

Wahai anakku…. Kita terlahir di dunia ini bukanlah tanpa tujuan. Kita menjalankan detik demi detik kehidupan, hari demi hari, waktu demi waktu bukanlah sekedar mengalir begitu saja. Ada sebuah tujuan yang ingin kita capai. Ada sebuah perlombaan yang tengah kita jalankan. Dalam surat Al-Mulk ayat 2, Allah berfirman bahwa Ia menciptakan hidup dan mati untuk menguji kita semua tentang siapa yang paling baik amalannya. Ummi ingin kalian mengingat hal ini sehingga kalian akan selalu memastikan bahwa setiap detik yang kalian lewati adalah bagian dari rantai amalan terbaik itu. Jauhkan diri kalian dari amalan yang sia-sia, apalagi bermaksiat kepada Allah.

Wahai anakku…. mungkin kehidupan kita hampir sama dengan orang lain. Kita sama-sama belajar, kita sama-sama makan, kita sama-sama berseka, kita sama-sama membersihkan lingkungan, atau apapun perbuatan kita yang juga dilakukan oleh orang lain. Yang membedakan hanyalah niatnya nak….. pastikanlah semua yang kita lakukan adalah bagian dari ibadah dan penghambaan kita kepada Allah. Bahkan sampai hal-hal terkecil yang kau lakukan.

Wahai anakku dalam perlombaan ini Allah senantiasa mencatat apapun yang kita lakukan. Tak sedikitpun yang terlewat dari catatan amal. Bahkan dalam surat Al-zalzalah Allah berfirman bahwa amalan sekecil apapun bahkan sebesar dzarah sekalipun kelak Allah akan membalasnya. Ingatlah ini wahai anakku…. sehingga engkau senantiasa bersemangat mengambil setiap peluang kebaikan apapun yang Allah berikan padamu, sekecil apapun. Ingatlah ini wahai anakku….. sehingga engkau senantiasa waspada untuk menghindari setiap keburukan apapun yang akan membuat bertambahnya catatan keburukan, sekecil apapun. Kita memang manusia biasa, kita memang tempatnya kesalahan. Namun yang membedakan amalan kita dihadapan manusia lainnya adalah bagaimana kemampuan kita untuk kembali kepada Allah saat kita khilaf melakukan kemaksiatan kepada-Nya.

Wahai anakku….. ummi dan bapak hanya manusia biasa. Tak mampu melihat sepenuhnya apa yang kalian lakukan. Namun Allah Maha Melihat. Betapapun kalian menyembunyikan sesuatu dari kami, Allah Maha Tau. Maka tidak perlu kalian repot-repot berbohong kepada kami demi membahagiakan kami. Jika kalian senantiasa mempersembahkan amalan kalian untuk Allah. Insya Allah ummi dan bapak turut bahagia.

Wahai anakku… perlombaan ini bukanlah tanpa aturan. Allah telah melengkapi penciptaan kita dengan sebuah “buku petunjuk”. Semua tertuang lengkap di dalam Al-Quran dan terejawantahkan sempurna melalui perkataan dan perbuatan Rasulullah saw. Ummi dan bapak tidak akan mampu setiap saat dan selamanya membimbing kalian. Namun selama kalian berpegang tegung terhadap apa yang tertuang dalam Al-quran dan hadist insya Allah kalian akan selamat. Dimanapun dan kapanpun kalian berada, taatilah peraturan yang berlaku bagi kalian selama peraturan itu tidak bersebrangan dengan kedua sumber utama peraturan ini. Dimanapun dan kapanpun kalian berada, taatilah pemimpin kalian selama perintahnya tetap sejalan dengan rambu-rambu yang tertulis dalam kedua petunjuk utama kehidupan ini. Jika suatu saat kalian terjebak dalam keadaan yang meminta kalian untuk memenuhi perintah namun berlawanan dengan apa yang tertulis dalam keduanya, maka tinggalkanlah perintah itu meski kalian akan sedikit kehilangan kenyamanan, rasa aman, peluang harta, atau kebahagiaan. Pecayalah nak, Allah akan mengganti apa yang hilang itu dengan sesuatu yang lebih baik dari arah yang tidak kita sangka.

Wahai anakku…… kelak mungkin kalian akan menemui keadaan bahwa menjadi benar terkadang menyakitkan. Berada di jalan kebenaran terkadang melawan kenyamanan. Terlebih ketika melawan sebuah kebenaran universal, keadaan yang dianggap benar karena semua orang mengakuinya sebagai sesuatu yang dibenarkan. Bukan kebenaran yang dibenarkan oleh Allah. Tentang hal ini hanya doa yang bisa ummi panjatkan agar kalian selalu dikaruniakan kesabaran dan kekuatan untuk senantiasa berada dalam jalan kebenaran. Ingatlah sayang, bahwa pada akhirnya kita akan mempertanggungjawabkan perbuatan amalan kita sendirian. Lakukanlah yang paling kalian mampu untuk mempertanggungjawabkannya.

Wahai anakku jika kalian besar nanti, kalian akan melihat betapa manusia bersusah payah mengumpulkan harta, sebagian dari mereka menebusnya dengan menuntut ilmu dan meraih gelar pendidikan yang tinggi, sebagian lagi bekerja keras siang malam demi memenuhi kebutuhan dan keinginan mereka. Ummi dan bapak ingin kalian tau bahwa jika yang kalian inginkan adalah memenuhi kepuasan maka sampai kapanpun manusia tidak akan merasa puas. Sesungguhnya semua milik Allah, semua akan dikembalikan kepada Nya. Namun yang membedakan adalah apa yang kita lakukaan saat Allah menitipkan harta itu kepada kita. Ummi ingin kalian tahu bahwa Allah sudah mencatat jatah rezeki setiap hambaNya, dan Allah tidak akan mencabut nyawa kita sebelum jatah rezeki itu Allah berikan semua kepada kita. Maka kita tidak perlu khawatir karena kita insya Allah akan mendapatkan yang sesuai dengan hak kita dan sepayah apapun mencari yang bukan hak kita, niscaya kita tidak akan mendapatkanya. Yang membedakan adalah dengan cara apa kita mendapatkan hak kita itu dan dengan cara apa kita membelanjakannya. Ummi dan bapak ingin kalian pahami bahwa harta hanyalah sarana penghambaan kita kepada Allah. Betapa banyak ibadah yang jadi lebih mudah dilakukaan saat kita memiliki kelapangan harta. Maka berjuang dan bekerjalah wahai anakku, kumpulkan dan belanjakanlah harta dengan jalan yang Allah ridhoi. Sebaik-baik harta adalah ditangan seorang mukmin yang dermawan. Maka jadilah kalian hartawan yang dermawan! Namun ingatlah nak…. bahwa jika pencarian itu membuat kalian lupa pada Allah, maka ingatlah kembali tujuan ini, bahwa harta hanyalah sarana, hanyalah sarana, hanyalah sarana penghambaan kita kepada Allah. Jika kalian merasa ritme kerja telah menjebak kalian untuk sulit memiliki waktu bersama Allah atau harta yang diraih telah membuat kalian semakin jauh dari Allah maka siasatilah agar segera kembali kepada Allah. janganlah kalian kecewa terhadap apa yang luput, karena sesungguhnya yang kita cari bukanlah harta yang melimpah melainkan harta yang berkah. Karena keberkahan akan memuat kalian merasa cukup, dan rasa cukup dapat dipenuhi dengan cara mensyukurinya.

Wahai anakku…. ummi ingin kalian tahu bahwa segala sesuatu ada dalam genggaman Allah. Hal kecil maupun besar semua dalam kekuasaan dan pengaturan Allah. Begitu juga cerita hidupmu sayang…. Allah bahkan telah menuliskannya sebelum kita terlahir di dunia ini. Beberapa hal telah menjadi ketetapan-Nya, beberapa hal lain masih bisa diubah dengan doa, dan beberapa hal lain menjadi tawaran yang dipilihkan untuk kita diantara 2 jalan, jalan fujur dan jalan taqwa. Dengan mengingat ini ummi berharap, ketika kalian dihadapkan pada berbagai pilihan, kalian selalu memilih jalan yang paling mendekatkan diri pada ketakwaan, lalu kalian hiasi usaha kalian dengan doa, namun menyerahkan hasilnya pada sang Maha Kuasa. insya Allah nak… insya Allah… jika kalian mengingat pesan ummi dalam surat ini kalian akan selalu dalam keadaan bahagia.

Sekian dulu surat dari ummi. Jika kalian membaca surat ini saat ummi sudah tidak ada, semoga pengamalannya menjadi simpanan ummi terbaik di akhirat kelak.

salam sayang
dari yang mencintai kalian

A Lecture for Muslim Youth

first 20 minutes
There are three major tendencies to understand the problems in muslim society - part of the global society
the three things are connected to each other
1. Proliferation of Shamelessness
It is becoming widespread and common.
In Islam, the standard of shameless is always the same, set by Allah, never change thousands year ago, and for the future.
American society? it changes over time.
When something happens all the time, you will get used to it - you will not get shocked to it, you get adjusted.
Then now, shamelessness is common and people become accustomed.
There is no lower our gaze, keep your modesty, the way your dress, the way you speak.
Then our heart becomes soft, our iman becomes weak, and the fear to Allah is gone…
and the more shamelessness we are.
2. Egoism / Individualism
When you dont care to anybody, Everything is about me.
What am I gonna wear? What am I gonna dress?
In Islamic standard, your first concern is Allah, then the Believers, starting by your Family.
The best way to save yourself is to serve Allah, be selfless.
And in the society, everything is about yourself.
Its extreme individualism, they dont care about parents, brothers and sisters.
Your saying to parents: “You dont care about what I want”
When we dont have strong connection to our family, we will lose respect to our parents. Talkback, lying, no respect.
We will have no respect too to other people and other people’s family.
Bad example: brother and sister going to prom party together.
The sense shame is gone. No dignity for the brother to save and protect his sister for the Man side.
For Woman side, Allah put shame (bashfulness) inside woman character, naturally.
If she does not have shame, she cannot protect her children, she cannot be trusted.
If that shame is gone, family is gone, society is gone.
3. Where the respect come from
When young people go high school, respect come from branded clothes, guys you hang out with, the group you belong to. Superficial, immature.
In Islam, the more humble, quiet, respectful you are -> thats how much better you are…
In the highschool society, its all the opposite.
Respect comes from the more shameless you are, and how self-absorbed you are…
Girls barely dressed, shameless…and other girls like, I want to be like her…
For the girls, they will degrade theirselves to get attention…
—-

catatan lama mentoring

2 nasihat terbaik dari Rasul setelah beliau wafat

Kemana mencari nasihat?
Nasihat yang bicara adalah Al Quran

Nasihat kedua yang diam adalah kematian

——

Siapa yang tau kapan kita mati?
Dan pada kondisi apa kita mati? Hilang akal? Bertahlil?
Itu jauh lebih penting.

Untitled

[Cuplikan Kisah Seputar Pengasuhan Anak 33]

Hati saya tersentak membaca curhatan seorang bunda via inbox yang tinggal di salah satu perkampungan Indonesia. Beliau mengabarkan tentang kondisi masyarakat di lingkungannya. Beliau bercerita tentang seorang bocah SD berumur 8.5 tahun di lingkungannya yang sering mengkonsumsi konten pornografi. Bocah tersebut sudah berada dalam tahapan kecanduan bahkan puncaknya ia nekad melakukan “acting out” terhadap balita berusia 3 tahun. Tersentak bukan karena mendengar kasus ini, karena kasus semacam ini memang semarak terjadi di segala penjuru dunia, termasuk di Indonesia. Saya begitu tersentak karena ketika ibu sang korban melaporkan kepada ibu sang pelaku, dengan mudahnya ia menjawab “ya sudah kalo gitu, gak usah main sama anak saya aja!” Lalu ia pergi menghentikan pembicaraan menuju rumahnya.

Astagfirullah….astagfirullah….astagfirullah, kini memang telah tiba akhir zaman yang digambarkan Rasulullah. Anak-anak kita adalah bocah-bocah akhir zaman karena dimasa inilah kita dan anak kita hidup. Dan dimasa inilah kita mendampingi tumbuh kembang anak-anak kita. Dan ditengah lingkungan seperti inilah kita membentuk kepribadian anak-anak kita. Sebuah masa yang Rasulullah telah kabarkan bahwa perzinahan akan merajalela. Ketika dahulu hal ini dianggap aib yang luar biasa, namun kini hal ini dianggap hal yang biasa. Bahkan mungkin kelak menjadi biasa terjadi dikalangan bocah-bocah ingusan yang seharusnya masih suci dari dosa. Di akhir zaman ini, sebuah perzinahan yang terjadi beberapa menit saja, kini tidak lagi hanya menjadi dosa dua orang manusia. Namun, teknologi telah memudahkannya untuk menjadi sarana dosa beramai-ramai.

Saya jadi teringat pesan umar bin khatab kepada para orang tua, untuk mendidik anak-anak sesuai jamannya. Dan kini, jaman telah berubah, anak kita tidak lagi tumbuh dalam masa kecil seperti kita apalagi seperti orang tua kita. Dan kita tidak lagi dapat sepenuhnya meng “copy paste” bagaimana cara orang tua kita mendampingi tumbuh kembang kita.

Kejadian ini semakin menguatkan pilihan kami, dalam memahami apa sesungguhnya hakikat “bersosialisasi” bagi anak-anak kami di masa kini. Melihat kenyataan rusaknya pergaulan di usia remaja, baik di Indonesia apalagi di Amerika, maka kami memilih untuk memaknai “belajar bersosialisasi” tidaklah harus dengan cara menempatkan anak dalam sebuah lingkungan sosial yang bersifat masif sehingga ia memiliki kesempatan untuk banyak mengenal orang lain. Karena lingkungan yang bersifat masif sangat sulit berada dalam pemantauan kami sementara hal tersebut sangat memungkinkan bagi mereka untuk berinteraksi secara langsung dengan berbagai kepribadian dan pola pikir yang bervariasi. Kami merasa membutuhkan sedikit ruang dan waktu pada fasa pembentukan jati diri mereka tanpa banyak dipengaruhi oleh nilai-nilai yang tidak sesuai dengan apa yang kami anut. Sampai kelak kemudian kami siap melepaskan mereka dengan kepribadian yang lebih kokoh dan siap memilah apa yang baik untuk diteladani serta apa yang buruk untuk ditinggalkan atau didakwahi. Maka kami memilih, bahwa yang kami butuhkan saat ini hanyalah sebuah miniatur masyarakat dalam sebuah lingkup sosialisasi yang lebih kecil, yang terjaga dan terpantau,sekedar cukup untuk mengajarkan anak bagaimana adab bergaul dan bersikap terhadap orang lain.

Bagi kami, baik tidaknya seseorang dalam bersosialisasi tidak dilihat dari berapa banyak jumlah teman yang ia miliki, serta tidak dilihat dari seberapa cepat ia mampu beradaptasi dalam lingkungan baru. Namun dari seberapa banyak kebermanfaatan yang dapat ia berikan bagi lingkungannya serta seberapa besar perbaikan yang mampu ia lahirkan bagi lingkungannya. Terlebih hidup di era sosial media seperti saat ini, membangun hubungan pertemanan menjadi perkara yang jauh lebih mudah dilakukan oleh siapapun dengan jenis kepribadian apapun. Yang menjadi tantangan utama bersosialisasi di akhir zaman seperti ini bukanlah bagaimana membangun hubungan pertemanan yang banyak, namun bagaimana menjalin hubungan pertemanan yang saling menguatkan dalam kebenaran dan kesabaran ditengah zaman yang semakin “wong edan”

Karena kenyataan ini, maka kami memilih untuk menjalankan program homeschooling pada fasa 7 tahun kedua perkembangan mereka setelah sebelumnya mereka diberi kesempatan untuk sedikit merasakan warna-warni realita kehidupan dunia khususnya di Amerika. Kami memilih untuk lebih banyak meluangkan waktu bersama mereka pada masa-masa pencarian jati diri mereka. Pilihan ini kami ambil dengan segala konsekuensinya, demi menjaga, memilah, dan membatasi apa yang di dengar, dilihat, dan dialami oleh anak-anak kami pada masa-masa utama pendidikan dan pembentukan karakter mereka. Kami merasa membutuhkan sedikit ruang dan waktu untuk menyampaikan nilai-nilai luhur kehidupan kepada mereka sebelum kelak mereka bersinggungan dengan warna-warni nilai kehidupan yang dianut menusia . Bukanlah sebuah lingkungan steril yang ingin kami ciptakan dengan mempersempit wilayah sosial mereka, namun kami membutuhkan sedikit waktu untuk membangun imunitas dalam jiwa mereka. Imunitas itu dapat kami bangun dengan memperlihatkan realitas keburukan masyarakat di dunia hanya dari kaca mata luar tanpa harus terlalu banyak bersinggungan dengan subjek pelakunya. Karena yang kami butuhkan dari fakta keburukan itu, hanyalah untuk mengasah rasa kepekaan sosial mereka. Dan kami berharap, kebersamaan kami yang lebih lama memberi kesempatan bagi kami untuk merefleksi dan mengarahkan bagaimana yang seharusnya. Kami sadar, pilihan kami bukanlah pilihan sederhana. Bahkan mungkin banyak diantara kerabat dekat pun masih ada yang tidak menyetujuinya. Namun kami harus memilih, memilih apa yang saat ini paling mudah untuk mendekatkan kami kedalam surga. Agar kelak kami dapat mempetanggungjawabkan dihadapan sang Penguasa terhadap sebuah perintah di dalam Al-quran untuk memelihara diri dan keluarga dari panasnya api neraka.

Yaa! Kami harus memilih! Walau pilihan kami melawan kenyamanan. Karena anak-anak kami adalah bocah-bocah akhir zaman, yang memiliki pilihan diantara dua peran dalam kancah kehidupan akhir zaman yang digambarkan Rasulullah. Memilih menjadi manusia yang memiliki masa depan sebagai bagian dari kerusakan peradaban atau memilih menjadi manusia yang mengambil bagian dalam kemenangan islam.

San Jose, California
Dari seorang ibu yang terus berdoa untuk keselamatan anak-anaknya
Kiki Barkiah

More Information